09 Januari 2009

Kurangi Pemanasan Bumi dengan Taman Atap

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk berpartisipasi mengurangi dampak pemanasan bumi. Salah satunya adalah membuat taman atap (roof garden).

Banyak pula kisah sukses di mancanegara dalam membangun taman-taman atap bangunan di kawasan kota yang terbukti memberi dampak positif terhadap kualitas lingkungan kota secara signifikan, seperti kota Tokyo dan Hongkong-China (flying green project), Singapura (skyrise greening project), Berlin (ecoroof project), New York dan Washington (green roof project).

Hanya dalam tahun 1996, Pemerintah Jerman berhasil menghijaukan atap seluas 28,8 hektar, dan di setiap kotanya 1 dari 10 atap flat kini berhasil dihijaukan. Sejak tahun 2000, Pemerintah Hongkong dan Jepang mewajibkan pengelola gedung menghijaukan atap minimal 20 persen dari total luas atap bangunan atau berkisar 250-1000 meter persegi.

Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, hingga Manado sudah saatnya mendorong pembangunan taman-taman atap bangunan sebagai bagian sistem ruang terbuka hijau (RTH) kota. Pembangunan taman-taman atap akan menambah luasan RTH kota secara signifikan.

Tata ruang

Sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010, Jakarta menargetkan luas RTH 9.544,81 ha (13,94 persen) dengan kondisi di lapangan 6.900 ha (10 persen). Bandingkan dengan kota-kota besar dunia yang berlomba menyediakan RTH, New York (25,2 persen, 2020), Tokyo (29 persen menjadi 32 persen, 2015), London (39 persen, 2020), Singapura (19 persen, lahan hijau cadangan 37 persen, 2034), Beijing (38 persen menjadi 43 persen, 2008), atau Curitiba (17 persen, lahan hijau cadangan 13 persen, 2020).

Sebagai perbandingan, jika ada 100.000 rumah membangun taman atap masing-masing seluas 100 meter persegi, maka kota akan mendapat tambahan RTH secara signifikan seluas 1.000 hektar. Pemekaran ruang hijau pada atap bangunan (atap rumput, lantai rumput, taman atap, dan ruang hijau lain) terbukti mampu menurunkan suhu kota (sekitar 4,2 derajat Celsius), menyerap gas polutan (karbon dioksida, partikel debu), meredam pemanasan pulau (heat island) dan radiasi sinar matahari (hingga 80 persen), dan meredam tingkat kebisingan.

Taman atap hijau menyerap air hujan, menyimpan air sementara di lapisan tanah, dan mendinginkan atap, sehingga mengurangi penggunaan energi listrik alat pengondisian udara (AC). Taman atap sebagai insulasi alami (10-25 persen) mendinginkan permukaan bangunan (dari 58 derajat C menjadi 31 derajat C), dan menurunkan suhu dalam bangunan 3-4 derajat C lebih rendah dari suhu di luar bangunan sehingga menghemat pemakaian AC (hemat listrik 50-70 persen) atau total hemat listrik 15 persen per tahun.

Taman atap mengonservasi dan menyerap air hujan sampai 75 persen untuk dipakai menyiram kloset dalam gedung, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan penghuni atau pengguna gedung. Taman atap melindungi lapisan penahan air (waterproofing) atap dari radiasi ultra-violet, fluktuasi ekstrem suhu udara, kerusakan fisik, dan memperpanjang usia lapisan sampai 20 tahun ke depan.

Taman atap seluas 155 meter persegi menghasilkan oksigen yang cukup satu orang per hari (24 jam). Taman atap yang dilengkapi pepohonan menghasilkan oksigen untuk 10 orang setiap jam. Taman atap diletakkan panel-panel sel surya sebagai sumber energi bangunan. Optimalisasi taman atap menjadi ruang publik yang aksesibel akan meningkatkan nilai jual properti bangunan ramah lingkungan dan hemat energi sebesar 6-15 persen (Amerika Serikat, Inggris, fsn Singapura).

Dua fungsi

Taman atap mempunyai dua fungsi, yaitu bersifat intensif, di mana kegiatan yang dilakukan di dalamnya aktif dan variatif serta menampung banyak orang. Fungsi yang kedua bersifat ekstensif, yaitu mempunyai satu jenis kegiatan dan tidak melibatkan banyak orang atau bahkan tidak diperuntukkan untuk kegiatan manusia. Taman atap mempunyai pemandangan yang berbeda dengan taman konvensional. Keberadaan taman atap harus memerhatikan sinar matahari, suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, curah hujan tinggi, dan keamanan terhadap pengguna taman, terutama untuk anak-anak.

Meskipun teknologi pengembangan taman atap bangunan sudah begitu berkembang pesat di mancanegara, kita dapat menerapkan teknologi sederhana dan relatif murah untuk dibangun. Secara teknis, pengembangan taman atap mensyaratkan pertimbangan struktur atap yang lebih kuat dibandingkan atap konvensional untuk menahan beban tambahan (tanah, air, dan tanaman). Ketebalan lapisan media tanam memengaruhi besaran beban atap.

Kemajuan teknologi memungkinkan lapisan median tanam atap rumput dapat setebal 10-20 sentimeter. Taman atap terdiri atas lapisan dasar anti bocor (waterproofing), jaringan saluran air bawah tanah (sub drainage), lapisan media tanah (geotextile atau ijuk dan pasir), median tanam (tanah subur, topsoil), dan tanaman penutup tanah (rumput, pengalas, semak). Untuk penanaman pohon kecil, sedang dibuat bak-bak pot tanam khusus secara terpisah.

Bentuk desain taman-taman atap terus berkembang pesat mengikuti kebutuhan bangunan. Taman atap dikembangkan menjadi taman kafe terbuka, kolam renang, lapangan olahraga atau mini golf (hotel, apartemen, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan), kebun sayuran organik (apartemen, rumah susun, pusat perbelanjaan), taman terapi (rumah sakit, pusat klinik kesehatan, apartemen lansia), atau plaza penghubung antargedung (perkantoran, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan) yang dapat digabungkan dengan stasiun kereta api atau monorel.

Pada atap-atap hijau dimungkinkan diletakkan panel-panel energi surya sebagai sumber energi bangunan, seperti yang dikembangkan di atap-atap bangunan berupa atap rumput atau kebun sayuran di New York, Toronto, Berlin, Tokyo, dan Singapura.

Penghijauan bangunan dengan bentuk taman-taman atap dan dinding hijau akan mengubah pandangan orang awam terhadap bentuk desain rumah hunian atau bangunan umum kota yang ramah lingkungan.

NIRWONO JOGA, Arsitek Lansekap

0 komentar: